Tuesday, February 7, 2017

Menjadi Santri

Ruang belajar kami, penuh nuansa islam




























Alhamdulillah


Jadi, ceritanya beberapa waktu yang lalu baru aja diterima jadi santri pesantren. Hmmm, lebih tepatnya diberi kesempatan buat belajar ilmu agama lebih dalam, dari dasar, dari pondasinya. Berawal dari coba-coba dan penasaran sebenernya. 
Btw, ini pesantrennya Alhamdulillah gratis, kecuali kitab sama ongkos kesananya ya. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga jadi santri. 



Cerita dari awal banget ya,

INFORMASI PESANTREN BINA INSAN KAMIL [sampai akhirnya] DAFTAR

Lupa kapan tepatnya dapet info tentang pesantren ini, dari grup "Sharing Muslimah 55" atau dari grup "Jiwa Muda" awalnya, terus ada salah satu temen kelas yang ng-share info ini di kelas. Awalnya nggak begitu tertarik sih, sampai suatu ketika, temen kost nanya,
"Dew, kamu mau ikut daftar Pesantren Bina Insan Kamil", ujarnya.
"Pengen, kayaknya besok mau daftar, kemaren diajak adek tingkat juga sih," jawabku, padahal sebenernya masih ragu gitu, tapi sok-sokan yakin bakalan daftar. 
Singkatnya, jadilah aku dan adek tingkat (panggil dia Ami) daftar BIK. Disana kami ngisi formulir, bawa pas foto terbaru 2 buah, terus pulang.



Sampai tiba suatu hari dapet WA dari salah satu panitia seleksinya buat dateng kesana lagi, tes wawancara, kalo nggak dateng langsung gugur, serem ya. Kali ini aku berangkat sendiri, nggak tanya Ami, pun nggak tanya Fatim yang juga ternyata ikut daftar BIK ini. Wawancaranya habis dhuzur sampai pukul 2 siang. Seperti biasa, aku selalu dateng mepet, kebiasaan buruk emang. Ubah Dew, ubah, perbaiki!

Sampai di sana disuruh nunggu dulu, disetelin video seputar BIK, dan ngenesnya aku cuman satu-satunya akhawat yang dateng telat -_- tuh kan. Di ruang tunggu wawancara cuman ada aku sama beberapa mas-mas yang juga nunggu wawancara. Tesnya ada tes baca Qur'an & wawancara langsung dari salah satu ustadz pembina pesantren. Kali itu aku diwawancara Ust. Fairuz Ahmad, ustadznya baik supel, dan baru tau kalo ustadznya seorang penulis juga. Agak deg-degan gitu, baru pertama kali diwawancara ustadz, tapi untung pertanyaannya mendasar seputar komitmen (padahal komitmen itu hal yang nakutin).

Eits, sebelum wawancara, habis tes baca Qur'an, ketemu (lebih tepatnya liat) 2 ikhwan yang nggak asing. Dan karena aku cuman sendiri, dan malu juga (padahal kenapa ya aku harus malu). Aku cepet-cepet naik ke lantai 2 buat wawancara. Untungnya pas habis wawancara mereka udah masuk di ruang tunggu. Udah bisa napas lagi, hehe.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Singkat dari singkatnya lagi, aku, Fatim, dan Ami, diterima. Dan ternyata ada temen 4 temen ikhwan setingkat yang diterima juga dan sekarang sekelas tiap Jumat & Sabtu.
Dan baru tau kemaren kalo ada lagi yang ikut ternyata, ketemu di transjakarta.

Tahap selanjutnya ada orientasi, di sana kami diperkenalkan Pesantren BIK lebih dalam lagi. Apa yang dipelajari, siapa ustadz pengampunya, peraturan, program disana dan lain-lain. Orientasinya hampir seharian, dari pagi sampai sore di Gedung DDII (deket PMI yang di Pal Putih).

Oh iya, ada 2 jadwal belajar, weekdays & weekend, dan aku ngambil weekend. Minggu kemaren udah ikut 4 kelas, ada Fiqih Sosial (Jumat Malem), Bahsa Arab, Aqidah, dan Fiqih Sabtu siang-sore. waktu yang singkat sebenernya buat belajar hal penting mendasar ini.
Semoga Allah melapangkan, dan menambah pemahaman kami.


TAU NGGAK ?

Tantangan terberatnya adalah tentang niat. Nah tau sendiri kan, syarat amal diterima itu niatnya tuh harus tulus, ikhlas karena Allah. Bukan karena pengen dilihat temen, dilihat orang, dan dibilang
"Kamu kok rajin sih,"
"Kamu keren ya bisa ikut ini itu, itu "









Dan macem-macem lagi prasangka orang terhadap kita. Bagiku, lebih nakutin prasangka baik dari pada prasangka buruk dari orang. Iya nggak sih? Cukup Allah yang jadi tujuan kita. Tata lagi niatmu ya Dew. Kalau yang kamu tuju manusia, coba berhenti dulu, menepi, perbaiki.



PS : Jangan pernah menilai diri ini sebagai orang yang sudah baik. Kamu tak pernah tau apa yang tak kamu lihat.

----

Santri Baru Pesantren Bina Insan Kamil
Semoga diri ini bisa istiqomah sampai akhir.


No comments:

Post a Comment