Monday, August 17, 2015

[Monolog] Untuk Seorang Kamu



Sampai jumpa.
Sampai bertemu disaat kita sama-sama sudah siap. Bukan siap dalam artian mapan. Siap dalam menerima, dan menjalani hidup bersama.
Siap untuk sama-sama menekan ego diri yang sekarang masih kita biarkan datang dan pergi begitu saja,





Brain : "Ukhtii, kamu pengen punya suami yang kayak gimana?"
Hearth : " Lah, kenapa tiba-tiba tanya kayak gini eh?"
Brain : "Nggak papa, mau tau aja, tipe kita sama nggak sih."
Hearth : "Hmmm aku harus jawab apa ya, padahal jodoh yang pasti dateng tuh kematian :", Hmmm kriteria beneran atau puitisan nih?"
Brain : "Dua-duanya boleh, sini bilang, siapa tau aku kenal yang cocok."
Heart : "Paling utama ya agamanya, Islam, no excuse, bukan sekedar Islam KTP ya tapi. Islam yang kaffah, intinya selama dia belajar untuk menjadi muslim sejati, itu udah keren banget. Ganteng atau enggak relatif sih, wanita akan mencintai laki-laki yang akhlaqnya baik. Coba liat interaksi dia dengan ibunya gimana, dengan anak-anak gimana, dengan orang tua gimana, dan dengan teman sebayanya gimana, kalo itu semua udah bagus, mantep tuh si calon suami."
Brain : "Okay, nggak mau yang kaya? Kan bisa ngajak kamu jalan-jalan."
Heart : "Yang mau berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya, kayaknya itu lebih utama menurutku. Kalau buat jalan-jalan mah bisa jalan kaki tiap pagi atau jogging bareng, malah so sweet, nggak keluar uang banyak. Habis jalan, terus makan bubur bareng dipinggir jalan." 
Brain : "Kamu ada rencana apa gitu nggak sih setelah nikah?"
Hearth : "Banyak, salah satunya tuh nanti "kita" baca Riyadhus Shalihin setiap hari, mantep kan tuh ada 2 jilid yang tebel banget. Belum punya sih, mau beli, semoga dilapangkan rezekinya sama Allah ya. Hmmm terus, pengen ngafal dan jaga hafalan Qur'an besok setelah nikah, Nanti murojaah bareng, belajar tahsin bareng. Pokoknya pengen gitu besok sama suami tuh kita sama-sama belajar ilmu agama. Gini, kan sunah-sunah Nabi Muhammad SAW tuh banyak ya, dan kalau diterapkan pasti baik buat kehidupan kita. Pengen aja menghidupkan rumah tangga dengan sunah Rasul. Dikit-dikit lah."
Brain : "Aku juga mau kalau itu, oke aku catet ya." 
Heart : "Oh iya, pengen menghadiri majelis ilmu bareng, boncengan naik motor (kalau udah ada mobil Alhamdulillah, malah bisa ngajak banyak orang). Kan selama ini kalau ke kajian apa gitu pasti sendiri kalo enggak sama temen (perempuan ya). Besok kalo udah nikah pengennya tetep rajin ke kajian, kalau misalnya akunya yg nggak bisa, semoga dianya bisa, pernah denger ini kemaren dari Ust. Fairuz Ahmad di BIK -Umar bin Khattab berkata "Pahamilah agama sebelum jadi pemimpin, terus ada tambahan dari Imam Al Bukhori "dan setelah diangkat jadi pemimpin" (lupa riwayatnya)- Intinya suami kan pemimpin rumah tangga ya, jadi dia harus punya ilmu sebelum memimpin, pun setelahnya, ilmu untuk membina, pun si perempuan wajib punya ilmu juga yak, jadi jangan mentang-mentang suaminya udah jago kitanya leha-leha, dan sebagai istri kita harus mau dibina tentunya. Mau jadi apa rumah tangga yang suaminya sudah mampu membina tetapi istrinya tak mau dibina."
Brain : "Lanjut besok lagi ya tanya-tanyanyaa, siapin jawaban jitu :p"


---
Last edited : Selasa, 7 Februari 2017

No comments:

Post a Comment