Sunday, May 24, 2015

Hati-hati dengan hatimu, Dew.


Hmm... Seperti yang aku duga sebelumnya, hati perempuan ini terlalu mudah luluh dengan kata-kata sederhana. Sesederhana rasa keingintahuannya. Mungkin dia tidak menyangka, keingintahuannya yang sederhana itu bisa melambungkan hati perempuan ini, entah sampai setinggi apa, susah diukur batasnya.
Tapi disisi lain, hati tetap harus dijaga, bukankah sekarang bukan saat yang tepat? Iya, belum tepat saja, mungkin bisa, tunggu dua atau tiga tahun lagi, saat semua angan dan impian kita semakin dekat dalam genggaman.Dan disaat itu kita, perempuan, butuh seorang laki-laki untuk menyertai langkah kita meraih asa ini, begitu pula dengannya.

Hmm... Tunggu ya hati, tunggu... Jangan terlalu gegabah.

Oh iya, terimakasih teknologi, kau sering mempertemukan hati yang ingin dibungahkan kata-kata sederhana.Seperti malam tadi, sederhana, tapi mendebarkan hati.Terima kasih, jangan lupa bahagia, dan jangan lupa selalu jaga semangat.Terlebih untuk hari ini, semangat ya.Jangan lupa hati-hati menjaga hati.

Sunday, May 10, 2015

Dear you,



Semangat UTS, iya SE-MA-NGAT!. Perlu banget nih aku ejain biar tambah semangat? :DTetap jadi sederhana dan santun ya.Tetap jaga jarak.Tetap dijaga sms, bbm, line, wa, comment, reply, atau apalah itu yaa.
Satu tahun lagi udah pakai toga ya? Tunggu. Aku dua tahun lagi. PKL dulu, Skripsi, WISUDAAA. yeay





S-E-M-A-N-G-A-T

siapapun kamu...



Thursday, May 7, 2015

Selalu Ngangenin

Selalu, ini yang aku suka saat telpon rumah, selalu, beliau tidak pernah menutup telpon duluan, saat ibu mau ke pengajian dan mengakhiri obrolan kami ini, beliau membiarkan telepon tetap menyala, yang aku lakukan selalu menunggu sampai 1 jam ini berakhir, entah dengan mendengar percakapan beliau berdua, atau sekedar mendengar suara sayup-sayup suara tv yang bising, atau kadang suara jangkrik.
Dan aku suka, suka suasana rumah, walau hanya bisa merasakan dari kejauhan.
Dan yang ku lakukan kali ini masih sama seperti kemarin, kemarin dan kemarinnya lagi waktu telpon,
Buk, pak, anakmu ini kangen, kangen berjumpa. Kangen kalian, kangen rumah, sekangen-kangennya kangen, baru beberapa hari yg lalu aku bilang ke mbak Ira kalau aku udah nggak pernah nangis lagi, mungkin hatiku udah jadi batu nih mbak Ir  tapi malam ini semua terasa terpatahkan. Kangen banget, pengeen banget memeluk mereka sekarang, detik ini.
Merasa bersalah belum bisa jadi sesuatu yang benar-benar terasa. Masih sering dan selalu menyusahkan, apalagi kalau tanggal 5 tiap bulan menjelang. Ya Allah, pengen banget ketemu bapak ibuk, kangen.
Bapak masih sering batuk-batuk, bapak itu orang hebat yang selalu mendorongku dalam diam, tiap aku menengok kebelakang melihat bapak aku pengen nangis :(
Bapak yang selalu jemput di stasiun wates, selalu bapak yang nunggu kereta. Bukan aku yang menunggu, bapak nggak mau anak bungsunya ini menunggu lama, bapak mau anaknya ini cepet sampai rumah, cepet berjumpa sama ibuk, cepet-cepet biar ibuk bisa langsung mencium kening dan pipi anak bungsunya ini.
Seringnya aku sampai jogja pagi, pasti ibuk masih didapur masak, turun dari motor pasti aku langsung lari ke dapur sambil teriak-teriak "mamiiii...." sampai lupa kalau sekarang udah bukan anak-anak lagi.
Masuk dapur dengan mata berkaca-kaca menghampiri ibuk, memeluknya, dan berkata, "Mak kangen.."
Buk, Pak, anakmu bungsu ini kangen.
~ Sedang belajar menulis, mengungkapkan apa yang tak terkatakan.